Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

PT Equityworld Futures Medan- Bursa saham domestik masih tertekan pada perdagangan Senin kemarin, (28/9/2020) seiring dengan tekanan jual yang cukup tinggi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,79% ke posisi 4.906,54 dengan nilai transaksi Rp 6,30 triliun. Adapun, pelaku pasar asing tercatat melakukan jual bersih Rp 593,10 miliar.

Beberapa saham yang paling banyak diperdagangkan kemarin antara lain, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan saat ini ada sebanyak 127 emiten yang berpotensi menerbitkan surat berharga komersial (SBK) alias commercial paper.

SBK adalah surat berharga yang diterbitkan oleh korporasi non-bank berbentuk surat sanggup (promissory note) dan berjangka waktu sampai dengan 1 tahun yang terdaftar di Bank Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia menyampaikan, emiten yang dianggap berpotensi menerbitkan SBK adalah emiten yang telah menerbitkan obligasi dan/atau sukuk di pasar modal dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi SBK Komersial di Pasar Uang.

“Sampai dengan 24 September 2020 terdapat 814 emiten dan di antaranya terdapat 127 emiten yang telah menerbitkan obligasi/sukuk sehingga termasuk ke dalam kategori perusahaan yang berpotensi menerbitkan SBK,” kata Nyoman dalam pernyataannya, dikutip Senin ini (28/9/2020).

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi, menyatakan masih akan fokus untuk memperluas jaringan 4G (long term evolution/LTE) dari penyewa (tenant).

Sampai dengan penghujung tahun ini, secara organik, perusahaan yang masuk investasi Grup Saratoga ini juga terus menargetkan penambahan penyewa dari 2.517 pada 6 bulan pertama tahun ini menjadi 3.000 penyewa.

Hardi Wijaya Liong, CEO TBIG menuturkan, secara rinci pada semester pertama tahun ini, TBIG memiliki 31.039 penyewaan dan 15.893 site telekomunikasi.

Site telekomunikasi milik perseroan, terdiri dari 15.772 menara telekomunikasi dan 121 jaringan DAS (distributed antenna system).

Secara keseluruhan, rasio kolokasi atau tenancy ratio juga mengalami kenaikan dari 1,96 menjadi 1,85 pada akhir tahun lalu.

“Kami secara organik menambahkan penyewaan kotor sebanyak 2.517 yang terdiri dari 370 sites telekomunikasi dan 2.147 kolokasi untuk setengah tahun pertama 2020,” ungkap Hardi, dalam keterangannya, Senin (28/9/2020).

3.Ditopang China Eximbank & ICBC, LPEI Dapat Utang Rp 8,6 T

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mendapatkan fasilitas pinjaman senilai total US$ 580 juta atau setara dengan Rp 8,64 triliun (asumsi kurs Rp 14.900/US$) dari dua bank dalam bentuk term loan facility.

Pinjaman ini akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja bagi LPEI guna mendorong pertumbuhan ekspor impor antara Indonesia dan China.

Pinjaman ini diperoleh dari dua lembaga yakni China Eximbank senilai US$ 200 juta dengan tenor 3 tahun dan PT Bank ICBC Indonesia sebesar US$ 380 juta dengan tenor 3 dan 5 tahun.

“Pinjaman tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja nasabah LPEI dalam rangka mendorong pertumbuhan ekspor dan impor antara Indonesia dan Tiongkok,” kata Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif LPEI Daniel James Rompas.

Manajemen pengelola The Jungle Waterpark Bogor dan Jungle Adventure Theme Park Sentul, yakni PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) menyatakan belum melakukan pembayaran gaji karyawan khususnya untuk periode Februari dan Maret 2020.

Tekanan bisnis lantaran dampak pandemi Covid-19 juga membuat pembayaran THR (tunjangan hari raya) 2020 bagi karyawan juga tertunda.

Nuzirman Nurdin, Chief Investor Relations and Corporate Affairs Officer Graha Andrasentra Propertindo, mengatakan terkait dengan pembayaran gaji Februari-Maret dan THR 2020 yang terutang, pihaknya terus mengupayakan untuk dapat melunasinya melalui dukungan dari unit usaha lain yang telah diperbolehkan beroperasi maupun melalui divestasi aset.

5.39 Asuransi Dicabut Izin Usaha dalam Satu Dekade Terakhir

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan selama kurun waktu 2009-2019 regulator telah mencabut izin usaha sebanyak 39 perusahaan asuransi dan reasuransi. Sebagian besar pencabutan izin usaha karena alasan kesehatan keuangan perusahaan yang dinilai tak lagi memadai.

Pengawas Eksekutif OJK Rianto mengatakan terdapat dua alasan pencabutan usaha yang dilakukan oleh OJK. Pertama adalah karena masalah kesehatan keuangan perusahaan dan kedua adalah karena alasan penggabungan usaha dengan perusahaan lain.

Dari 39 perusahaan tersebut, 25 diantaranya adalah asuransi umum. Lalu 13 perusahaan merupakan asuransi jiwa dan satu perusahaan reasuransi.

6.Restrukturisasi Leasing Udah 4,5 Juta Nasabah, Tembus Rp169 T

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan jumlah nasabah perusahaan pembiayaan (leasing) atau multifnance yang sudah direstrukturisasi mencapai Rp 168,77 triliun sampai dengan 22 September 2020.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam pemaparannya di acara webinar Kagama Inkubasi Bisnis, 27 September 2020 bertajuk Pemulihan Ekonomi Indonesia di Masa Pandemi, mengungkapkan, jumlah tersebut terdiri dari 182 perusahaan pembiayaan.

Jumlahnya mencapai 4,58 juta kontrak nasabah restrukturisasi yang disetujui dari yang diajukan sebanyak 5,20 juta kontrak.

Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari posisi awal Juli sebesar Rp 133,84 triliun dari 3,74 juta kontrak yang disetujui.

Sementara itu, di sektor perbankan, sampai dengan 7 September 2020, nilai restrukturisasi mencapai mencapai Rp 900 triliun atau tepatnya Rp 878,57 triliun dari 7,38 juta nasabah.

7.XL Utang ke Permata Rp 1,5 T, Goodyear Utang ke Citibank

Dua emiten beda sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja mendapatkan pendanaan atau utang dari perbankan. Keduanya yakni emiten telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan produsen ban, PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR).

EXCL mengantongi pinjaman sebesar Rp 1,5 triliun dari PT Bank Permata Tbk (BNLI).

Dalam pengumuman di laman keterbukaan informasi, Sekretaris Perusahaan XL Axiata, Ranty Astari Rachman menuturkan, pinjaman tersebut sudah disetujui pada 25 September 2020 dengan jangka waktu selama 5 tahun.

“Fasilitas pinjaman akan digunakan untuk pengadaan barang modal, investasi, pembiayaan kembali pinjaman bank atau obligasi, dan pembayaran kewajiban umum lainnya,” ungkap Ranty, dikutip Senin (28/9/2020).

Di sisi lain, Goodyear juga sudah menyepakati perjanjian fasilitas kredit dari Citibank sebesar US$ 10 juta atau sekitar Rp 148,50 miliar dengan asumsi kurs Rp 14.850 per US$. Jangka waktu pinjaman ini sampai dengan 22 September 2020.

“Fasilitas kredit secara berulang ini untuk membiayai kembali utang perusahaan yang sedang berjalan dengan bunga yang lebih rendah,” ungkap Sekretaris Perusahaan Goodyear Indonesia, Vikash Mahendra Pillay di keterbukaan informasi BEI.

8.Tes Massal di Bintaro, 80 Karyawan Permata Positif Covid-19

Sebanyak 80 orang karyawan PT Bank Permata Tbk (BNLI) dinyatakan positif virus Corona usai menjalani polymerase chain reaction (PCR) swab test atau tes usap massal di PermataBank tower Bintaro, Tangerang Selatan.

Head of Corporate Affairs PermataBank, Richele Maramis menyatakan, jumlah karyawan yang positif tersebut setara 4% dari 2.000 karyawan tetap maupun pekerja alih daya yang melakukan tes usap massal.

“Dari sekitar 2.000 karyawan tetap maupun outsource yang ditest, sekitar 4% telah menunjukkan hasil positif COVID-19 dan sesuai kebijakan, PermataBank segera menindaklanjuti dengan langkah-langkah seperti contact tracing dan isolasi mandiri bagi karyawan yang terpapar,” kata Richele, dalam keterangannya, Senin (28/9/2020).

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan