Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

PT Equityworld Futures Medan- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan Jumat (10/9/20) menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah muncul kabar yang beredar di kalangan para pelaku pasar bahwa PSBB Total akan direvisi.
Pada pukul 9:36 WIB IHSG masih berada di zona merah yakni turun 0,96% di level 4.844,59 setelah sempat naik 0,30%. Pagi tadi sendiri IHSG sempat anjlok parah 2,80%

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih sebesar Rp 71 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 20 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan beli bersih sebesar Rp 10 miliar dan PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan net buy sebesar Rp 3 miliar.

Rabu (9/9/20), Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengumumkan ‘rem darurat’ kembali ditarik. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di ibu kota kembali diketatkan, tidak ada lagi PSBB Transisi. Mulai 14 September, warga Jakarta kembali disarankan untuk #dirumahaja.

“Kita akan menarik ‘rem darurat’ yang itu artinya kita terpaksa kembali menerapkan PSBB seperti pada masa awal pandemi dulu. Bukan lagi PSBB Transisi, tetapi kita harus melakukan PSBB sebagaimana masa awal dulu,” tegas Anies.

Pergerakan IHSG dengan menggunakan periode per jam (hourly) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Saat ini, IHSG berada di area batas bawah dengan BB yang cenderung melebar maka pergerakan IHSG selanjutnya memiliki tendensi terapresiasi kuat.

Untuk mengubah bias menjadi bullish atau penguatan, perlu melewati level resistance yang berada di area 5.011. Sementara untuk melanjutkan tren bearish atau penurunan perlu melewati level support yang berada di area 4.906.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di angka 35, yang belum menunjukkan adanya indikator jenuh jual ataupun jenuh beli akan tetapi pergerakan RSI terkonsolidasi naik setelah menyentuh level jenuh jual sehingga biasanya menandakan pergerakan IHSG selanjutnya akan cenderung terapresiasi.

Selanjutnya sudah muncul pola candlestick two white soldiers yang ditunjukkan dengan dua candlestick hijau panjang berurutan yang biasanya menandakan akan pergerakan IHSG selanjutnya akan terbang.

Secara keseluruhan, melalui pendekatan teknikal dengan indikator BB yang berada di area batas bawah, maka pergerakan selanjutnya memiliki tendensi bullish kuat atau terapresiasi. Hal ini juga terkonfirmasi dengan munculnya indikator RSI yang terkonsolidasi naik dan indikator candlestick two white soldiers.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan