Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)PT Equityworld Futures Medan-Harga saham produsen batu bara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) rontok pada perdagangan pagi ini merespons kejatuhan harga komoditasnya. Tercatat hargavbatu bara melemah lagi di pekan ini, bahkan jika melihat perjalanannya sepanjang tahun ini bisa dikatakan anjlok sangat parah.

Berdasarkan data perdagangan BEI, mayoritas saham produsen besar batu bara Indonesia drop pagi ini. Dimana koreksi paling parah dibukukan saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) yang harga sahamnya terkoreksi 1,42% ke level harga Rp 278/unit.
Baca: Rekor Terendah Lagi! Batu Bara Nyungsep di Bawah US$ 50/Ton

Meskipun hari ini harga saham batu bara terkoreksi, akan tetapi selama sepekan terakhir harga saham batu bara bergerak bervariatif.

Terpantau selama sepekan kenaikan paling tinggi dibukukan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang masih mampu naik 1,46%.

Sedangkan penurunan paling parah selama seminggu terakhir dibukukan oleh PT Petrosea Tbk (PTRO). Emiten yang sahamnya dimiliki oleh investor kawakan Lo Kheng Hong ini terpaksa terkoreksi 1,04% selama sepekan terakhir.

Sementara itu harga saham batu bara ‘sejuta umat’ PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih stagnan di level Rp 50/unit baik hari ini maupun seminggu terakhir.

Gerak harga batu bara dengan gerak saham kadang tak langsung ditransmisikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi, misalnya supply dan demand pasar (greed and fear), valuasi perusahaan tersebut, serta faktor-faktor lokal seperti harga batu bara acuan yang ditetapkan oleh Kementrian ESDM.

Melansir data Refinitiv, harga baru bara melemah 2,57% ke US$ 49,6/ton. Batu legam sudah turun ke level terendahnya selama 4 tahun terakhir yakni pada 21 Januari 2016 silam di harga US$ 49,75/ton.

Harga batu bara sendiri sudah turun 57,61% sejak anjlok dari level di harga US$ 117,95/ton 18 Juli 2018 silam. Selanjutnya apabila tak ada perbaikan harga maka harga batu bara bisa saja menyentuh level US$ 48,5/ton, level tersebut merupakan yang terendah sejak data tercatat di Refinitiv pada Desember 2008.

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) tak hanya membuat permintaan batu bara turun tetapi juga berdampak pada pangsa pasarnya. Merebaknya wabah dijadikan sebagai momentum untuk beralih ke sumber energi primer yang lebih ramah lingkungan oleh banyak negara terutama dari Eropa.

Pada paruh pertama tahun ini, permintaan terhadap listrik global diperkirakan mengalami penurunan sebesar 3%. Meskipun mengalami penurunan, pembangkit batu bara masih memasok 33% listrik dunia selama periode tersebut.

Ketika permintaan sedang lesu, pasokan batu bara justru berlimpah. Ini menjadi pukulan ganda bagi harga komoditas unggulan Negeri Kanguru dan Indonesia. Argus Media melaporkan kontraksi penjualan batu bara RI lebih dalam dari penurunan produksinya.

Berdasarkan data kementerian ESDM, Indonesia memproduksi 324,4 juta ton batu bara atau rata-rata 46,3 juta ton/bulan selama Januari-Juli. Sementara dari sisi volume penjualan pada periode yang sama tercatat mencapai 286.1 juta ton atau 40,9 juta ton/bulan.

Dengan begitu, produksi batu bara Indonesia turun sekitar 4,2 juta ton/bulan pada Januari-Juli, tetapi penjualan turun sebesar 11,6 juta ton/bulan selama periode yang sama.

Produksi Indonesia telah menunjukkan tanda-tanda pelemahan dalam beberapa bulan terakhir dan beberapa produsen besar telah merevisi turun panduan tahunan mereka. Namun masih ada juga para penambang lain lebih bullish dan pemerintah sejauh ini masih mempertahankan target tahunannya.

Permintaan domestik diperkirakan turun 28 juta-38 juta ton dalam setahun menjadi 100 juta-110 juta ton pada 2020, yang membuat surplus ekspor berada di kisaran 440 juta ton -450 juta ton.

Namun untuk mencapai batas bawah kisaran ini, ekspor Indonesia perlu mencapai rata-rata 40,5 juta ton/bulan pada bulan Agustus-Desember, yang berarti 6,5 juta ton/bulan lebih tinggi dari pada bulan Januari-Juli dan 2,4 juta ton/bulan lebih tinggi dari pada bulan Agustus-Desember tahun lalu.

Ini jelas bukan tugas yang mudah mengingat permintaan global sedang loyo-loyonya. Asosiasi (APBI) memperkirakan akan terjadi penurunan penjualan batu bara RI sebesar 85 juta ton dari tahun lalu.

Ini berarti volume ekspor tahunan akan mendekati 405 juta ton, atau 33,5 juta ton/bulan selama Agustus-Desember, yang kemungkinan akan menambah kelebihan pasokan saat ini dan membuat harga tertekan.

Kementerian ESDM mematok harga batu bara acuan (HBA) bulan Agustus di US$ 50,34/ton dan menjadi level terendah dalam setidaknya empat tahun terakhir. Secara year to date pun HBA RI sudah melorot 23,6%.
Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan