A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn OgirenkoPT Equityworld Futures Medan- Harga batu bara termal acuan Newcastle mengalami kenaikan pada akhir perdagangan pekan lalu. Faktor teknikal masih mendominasi pergerakan harga batu bara.

Jumat (7/7/2020) harga batu bara untuk kontrak yang aktif diperdagangkan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga batu bara dibanderol pada kisaran harga US$ 53,2/ton setelah tembus US$ 52,1/ton.

Tren harga batu bara masih bergerak sideways dengan rentang yang lebih sempit. Faktor fundamental pasar batu bara sejatinya masih mengalami tekanan.

Meski konsumsi listrik mengalami kenaikan seiring dengan pelonggaran lockdown, tetapi di beberapa daerah seperti India, Perancis, Italia dan kawasan Benua Biru lainnya masih lebih rendah dibandingkan level sebelum pandemi terjadi.

Negara-negara Barat juga memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk meningkatkan pangsa basar energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu harga gas yang murah serta ketersediaannya melimpah membuatnya lebih menarik ketimbang batu bara.

Hingga bulan Agustus ini, harga batu bara acuan (HBA) RI dipatok di US$ 50,34 per ton, turun 3,49 % dibandingkan bulan Juli dari angka US$ 52,16 per ton.

“Penurunan HBA bulan Agustus 2020 ini masih disebabkan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan turunnya permintaan di beberapa negara pengimpor batu bara, sementara stok batu bara di pasar global juga makin meningkat,” katanya.

Lebih lanjut Agung menyampaikan penurunan harga batu bara global juga dipicu kebijakan China dan India yang memprioritaskan penggunaan batu bara produksi dalam negeri.
Faktor lain yang patut dicatat adalah bahwa sementara impor batu bara jalur laut (seaborne) China turun pada bulan Juli, tetapi sepanjang tahun ini impor batu bara China cenderung stabil.

Untuk tujuh bulan pertama tahun ini, impor batu bara China mencapai 163,9 juta ton, turun sedikit dari 164,6 juta untuk periode yang sama tahun lalu, menurut data Refinitiv.

Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk India, dengan impor Januari hingga Juli mencapai 99,7 juta ton, turun dari 123 juta pada periode yang sama pada 2019. Di luar dua importir batubara teratas Asia juga, gambarannya beragam.

Jepang sebagai importir nomor tiga terbesar mengimpor 96,1 juta ton dalam tujuh bulan pertama 2020, sejalan dengan 96,0 juta pada periode yang sama tahun lalu.Korea Selatan, importir peringkat keempat, mencatatkan impor sebesar 61,3 juta ton batu bara pada periode yang sama, turun dari 70,7 juta pada periode yang sama pada 2019.

Secara keseluruhan, empat importir Asia membawa 421 juta ton dalam tujuh bulan pertama tahun ini, turun 7,3% dari 454,3 juta pada periode yang sama tahun lalu. Ke depan jika China melonggarkan pembatasan impornya dan India terus melakukan impor, harga batu bara berpotensi menguat.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan