Direktorat II Tindak Pidana Ekonomi   Khusus  (Tipideksus) Bareskrim Polri menangkap enam orang sindikat pembuatan uang palsu di Wilayah Jakarta dan Bogor di Kantor Bareskrim,  Jakarta, Jumat (16/3). Sejumlah barang bukti uang palsu pecahan Rp 100,000 ribu dan alat cetak sablon uang palsu dan sebuah komputer yang di gunakan untuk mendesain uang palsu. Motif pembuatan uang palsu ini mencari keuntungan ekonomi.PT Equityworld Futures Medan-Para pengusaha menyuarakan agar Bank Indonesia (BI) mencetak uang bersama pemerintah untuk bisa menggenjot perekonomian. Dengan mencetak uang dan langsung digelontorkan ke korporasi, diharapkan ekspansi dan roda perekonomian bisa berjalan.

Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed dan Malaysia bahkan Thailand juga secara langsung menggenjot ekonominya melalui berbagai skema pemberian likuiditas langsung ke korporasi hingga UMKM.

Sebenarnya bisakah BI melakukan kombinasi yang dilakukan bank sentral lain hingga cetak uang?
“Kombinasi bisa, misalnya BI melakukan semacam negosiasi dengan bunga yang rendah dan terutama untuk keperluan-keperluan sosial. Kombinasi berikutnya BI bisa kasih likuiditas ke bank untuk menyalurkan dana ke sektor rill,” kata Ekonom Senior Raden Pardede dalam program CNBC Indonesia TV, Jumat (26/6/2020).

Menurut Raden, perbankan saat ini butuh banyak dana untuk disalurkan ke pada korporasi biasanya sektor kredit modal kerja. Raden menambahkan untuk mengikuti The Fed memang BI tidak punya kewenangan tersebut, misalnya menyalurkan langsung dana ke korporasi.

“Tapi BI bisa langsung kucurkan likuiditas ke perbankan yang nantinya ke sektor riil. Namun selama ini kan ada pakai Repo dan bunganya bank harus bayar ke BI juga,” jelasnya.

BI sendiri, menurut Raden perlu juga mempertimbangkan untuk menurunkan bunga atau yield saat menyerap SBN ataupun memberikan likuiditas ke bank. Namun memang tidak 0%.

“Nol persen mungkin kurang baik juga, yang bisa kita patokan adalah inflasi kalau 2,8% atau 3% di sekitar itu masih bisa, dibanding 7,2% saat ini. Kalau 3% masih masuk akal, itu dibandingkan 7,2%.”

“Kalau surat utang sampai Rp 1000 triliun, tiap tahun BI bisa dapat 72 triliun. Itu dananya tiap tahun bisa gerakkan roda ekonomi dengan bantu UMKM,” kata Raden.
Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan