Ilustrasi Investasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)PT Equityworld Futures Medan- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot. Optimisme terhadap pemulihan ekonomi global semakin tebal, sehingga membuat investor malas bermain aman.

Pada Rabu (24/6/2020), US$ 1 dihargai Rp 14.100 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,07% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.

Kemarin, rupiah mengakhiri perdagangan pasar spot di posisi Rp 14.110/US$, sama seperti posisi penutupan sehari sebelumnya alias stagnan. Ini membuat rupiah gagal menguat selama tiga hari perdagangan beruntun.

Artinya, rupiah sudah ‘murah’. Investor bakal tertarik masuk ke instrumen berbasis rupiah karena harganya sudah semakin terjangkau. Minat ini yang dapat menjadi bahan bakar bagi penguatan rupiah.

Selain itu, mood investor juga sedang bagus. Ini terlihat di bursa saham New York yang kembali menguat. Dini hari tadi waktu Indonesia, Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,5%, S&P 500 bertambah 0,43%, dan Nasdaq Composite terangkat 0,74%.

Berbagai data ekonomi membuat investor semakin yakin bahwa pemulihan ekonomi sudah di depan mata setelah terpukul habis-habisan oleh pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Penjualan rumah baru di AS pada Mei 2020 melonjak 16,6% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 676.000 unit. Jauh di atas konsensus pasar yang dihimpun Reuters yang memperkirakan pertumbuhan 2,9%.

Masih dari AS, pembacaan awal angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur periode Juni 2020 adalah 49,6, sudah sangat dekat dengan angka 50 yang menjadi titik awal ekspansi dunia usaha. Juga naik signifikan dibandingkan Mei 2020 yang sebesar 39,8.

Sementara pembacaan awal PMI manufaktur Australia untuk Juni 2020 ada di 49,8. Masih di bawah 50, tetapi sudah sangat dekat. Angka 49,8 juga membaik ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar 44.

Di Prancis, PMI manufaktur Juni 2020 sepertinya berada di 52,1. Sudah masuk zona optimistis, dan melonjak dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 40,6.

Lalu di Jerman, proyeksi PMI manufaktur Juni 2020 adalah 44,6, naik dibandingkan bulan sebelumnya yakni 36,6. Sementara PMI manufaktur Zona Euro pada Juni 2020 diprediksi 46,9, jauh di atas bulan sebelumnya yang berada di 39.4.

Kemudian di Inggris, pembacaan awal PMI manufaktur Juni 2020 adalah 50,1. Seperti halnya di Prancis, industriawan Negeri John Bull juga sudah siap ‘menyeruduk’. Terjadi kenaikan tajam dibandingkan Mei 2020 yang sebesar 40,7.

“Berbagai data ekonomi terbaru memberi harapan bahwa pemulihan ekonomi akan berlangsung cepat. Mungkin bisa membentuk pola V-Shape,” kata Mark Luschini, Chief Investment Strategist di Janney Montgomery Scott yang berbasis di Philadelphia, seperti dikutip dari Reuters.

Perkembangan ini membuat investor berani bermain agresif dan meninggalkan aset-aset aman seperti dolar AS dan emas. Pada pukul 07:46 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,04% sementara harga emas dunia terkoreksi 0,02%.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan